Thursday, January 28, 2016

Summer Trip To East Coast (Part 3 - New York City, New York) _ Jalan-Jalan Ke New York

Akhirnya, setelah tinggal di Amerika selama 12 tahun saya pun menginjakkan kaki di New York. Saat saya berusia 25 tahun saya membuat bucket list lima kota besar di dunia yang akan saya kunjungi, New York City adalah salah satu kota yang ada di daftar tersebut.

Seperti layaknya kota-kota besar, New York City pun memiliki gedung gedung pencakar langit yang saling berdekatan satu dengan lainnya yang seakan berlomba ketinggian. Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah gedung-gedung tinggi, manusia yang berlalu lalang, taxi yang hampir semuanya berwarna kuning. Sepanjang telinga mendengar, bunyi kelakson mobil terdengar di jalan, di campur hiruk pikuk suara-suara manusia. Bising sekali. Saya merasa sangat kecil saat berdiri di antara gedung-gedung pencakar langit di kota New York. Saya pun berkhayal di siang bolong, "what would I be if I live in New York in my 20's?". Lamunan saya soal New York terhenti ketika anak lelaki saya yang tidak tahan asap berkata, "Mom, this smoke bothers me". Di bandingkan Los Angeles atau Boston, kepadatan dan kesibukan di New York membuat saya terkenang akan Jakarta. Di banding Los Angeles, tingkat polusi di New York cukup tinggi, kota yang padat dengan kendaraan, kota yang padat dengan manusia yang berlalu lalang yang sebagian dari mereka dengan asyik nya menghisap dan membagi asap rokoknya dengan kami. Anak lelaki saya tampak telihat tidak nyaman. Saya bilang ke dia "This is New York, we just need to deal with it in the next three days".


The Empire State Building


Setelah check in di hotel, kami beristirahat sebentar dan kemudian langsung berjalan kaki menuju Empire State Building. Empire State building pernah menjadi salah satu gedung tertinggi di dunia yang berketinggian 381 meter dan memiliki 102 lantai. Kami menyempatkan diri naik ke lantai paling atas untuk bisa milihat kota New York.
Pemandangan dari atas Empire State sangatlah indah walau saat itu langit agak sedikit berawan. Kami dapat melihat seluruh kota New York dibagian timur, selatan, utara dan barat. Tiba-tiba saya teringat film Sleepless in Seattle. Ingat adegan di saat Meg Ryan berjanji untuk bertemu Tom Hanks?.

Ini klipnya Sleepless in Seattle



New York City - Pemandangan dari Empire State Building

New York City - Pemandangan dari Empire State Building







Rockefeller Plaza


Kemudian perjalan (jalan kaki loh ya) kami lanjutkan ke Rockefeller Plaza. Rockefeller Plaza adalah landmark terkenal di tengah kota Manhattan yang sering dijadikan tempat untuk even-even tertentu termasuk beberapa acara TV show di Amerika.


Seluruh bendera nasional dari semua negara ada disini. Saya berpose di bawah bendera Indonesia







TIMES SQUARE


Kamipun berjalan kembali menuju tempat berikutnya yaitu Times Square. Time Square adalah sebuat intersection (perempetan) besar di jantung kota New York yang di penuhi dengan layar kaca atau screen yang sangat besar. Di sinilah dirayakannya counting down setiap tahun baru. Di Time Square juga banyak terdapat tempat perbelanjaan dan restaurant. Kami sengaja mengujungi Time Square di malam hari karena pada malam hari inilah lampu-lampu dan layar besar di Time Square seperti berlomba-lomba menarik perhatian para pengunjung.  Sekali lagi, saya merasa sangat kecil berada di tengah-tengah kemegahan Time Square dan lampu-lampu yang berwarna-warni.

Tiba-tiba lagunya Alicia Keys terngiang-ngiang di telinga saya, walapun pada saat itu suara musik dari puluhan layar kaca di Time Square dan suara ratusan manusia yang saling berbicara terdengar sangat keras.

"Now you're in New York, these streets will make you feel brand new, big lights will inspire you. Hear it from New  York"


Radio City Music Hall









STATUE OF LIBERTY


Hari kedua di New York kami menunjungi salah satu symbol ternama di Amerika, symbol yang melambangkan kebebasan, patung lady Liberty. Patung ini terletak di pulau Liberty di muara sungai Hudon di New York. Dalam perang revolusioner antara Amerika dan Inggris, Perancis banyak membantu tentara Amerika. Patung ini dihadiahkan Perancis kepada Amerika sebagai simbol persahabatan kedua negara.

Saya tidak pernah menyangka betapa besarnya patung Liberty tersebut. Kekokohan patung ini secara simbolik mewakili kekokohan bangsa Amerika. Negara tempat anak-anak saya di lahirkan. Anak lelaki berkata, "Patung ini membuat saya bangga sebagai bangsa Amerika, mommy". Saya pun mengangguk, saya mengerti apa yang dia maksud karena demikian pula perasaan saya saat melihat MONAS. :)

Untuk sampai ke pulau Liberty, kami menaikin feri kecil dari dermaga yang memakan waktu sekitar 15 menit.



Di feri menuju pulau Liberty


The beautiful elegant and strong Lady Liberty







ELLIS ISLAND


Dari pulau Liberty, kami kembali naik feri menuju pulau Ellis yang memakan waktu sekitar 10 menit. Di pulau Ellis terdapat sebuah kantor immigrasi yang saat ini dijadikan museum. Di pulau Ellis inilah para immigran yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperbaiki nasib di interograsi dan di periksa kesehatan mereka sebelum mereka diijinkan memasuki Amerika Serikat. Kantor immigrasi di pulau Ellis beroperasi antara tahun 1892-1934. Saya sempat menitikkan airmata saat mempelajari beratnya rintangan para immigran yang kebanyakan dari negara-negara Eropa.

Diruang inilah di antara tahun 1892 -1934 para imigran dari negara-negara Eropa, Asia dan Afrika berkumpul untuk di periksa kelengkapan surat-surat mereka



Salah satu sisi dinding yang berisi nama-nama parat immigrant yang masuk lewat pulau Ellis

WALL STREET


Kami melanjutkan perjalanan kami ke Wall Street dan The Freedom Tower yang tidak terlalu jauh dari pulau Ellis ataupun pulau Liberty.
Saya punya kenangan sendiri dengan Wall Street. Di tahun 1997, empat bulan setelah tamat kulia, pekerjaan pertama saya adalah di sebuat perusahaan investasi di Jakarta, banyak client saya ber kantor dan berlokasi di Wall Street. Waktu itu, rasanya keren sekali bisa berkomunikasi dan berbicara lewat telepon dengan mereka oran-orang Amerika di Wall Street. Akhirnya gambaran saya tentang Wall Street menjadi kenyataan.





The Freedom Tower atau One Freedom Tower


Kemudian kami berjalan menuju The Freedom Tower atau yang dulu dikenal sebagai The Twin Tower, dua gedung World Trade Center yang di hancurkan oleh terroris. Terroris tidak akan pernah menang, begitu yang ada di pikiran saya saat berada di Freedom Tower. 



The Freedom Tower





CENTRAL PARK



Hari ketiga kami habiskan untuk berjalan-jalan di sekitar Central Park, sebuat taman kota yang sangat terkenal di New York. Central Park memiliki luas sekitar 3,41 km persegi. Taman ini sangat besar sekali dan di tata dengan rapi. Taman yang terkenal ini sering dijadikan lokasi pembuatan film-film Amerika, seperti "You'Ve Got Mail" atau serial TV yang terkenal FRIENDS. Taman ini terletak di daerah elit atau yang di kenal dengan uptown Manhattan. Masyarakat umum tidak di pungut bayaran untuk memasuki Central Park.

Rasanya tidak akan cukup waktu sehari untuk mengelilingi taman besar yang terletak di tengah kota Manhattan ini. 















Saat kami berjalan-jalan diluar pagar Central Park, saya melihat sebuah kafe yang mengingatkan saya akan film "Yove' Got Mail". Benar saja, kafe yang terletak dekat Central Park ini dijadikan tempat lokasi film tersebut .

Ini klip film You've Got Mail di cafe Lalo.

Di depan kafe tempat syuting 'You'Ve Got Mail'

Kafe tempat syuting "You'Ve Got Mail"


Well that's it. It was a great Summer of 2015. Kami banyak berjalan kaki, naik subway dari satu stasiun ke stasiun lain, dan naik taksi.  Kamipun berjanji, "We will be back, New York!'.








Wednesday, January 27, 2016

Summer Trip To East Coast (Part 2b - Harvard University and MIT, Massachusetts) - Kunjungan ke Harvard dan MIT

Hari kedua kunjungan kami di Boston, kami khususkan untuk mengunjungi dua universitas terkenal di Amerika dan di dunia, yaitu Harvard University dan Massachusetts Institute of Teachnology (MIT). Kedua perguruan tinggi ini terletak di kota Cambridge, Massachusetts.

Tujuan utama saya mengunjungi Harvard dan MIT adalah untuk memberikan semangat dan menginspirasi anak-anak saya, terutama anak tertua saya akan pentingnya pendidikan terutama pendidikan di perguruan tinggi. Saya dan suami ingin menaikkan semangat anak saya bahwa apapun bisa dia lakukan jika dia benar-benar menginginkan sesuatu. Kami jelaskan kepada anak-anak kami bahwa untuk di terima masuk di perguruan tinggi seperti Harvard dan MIT tidaklah mudah. Disamping mereka harus memiliki nilai yang bagus atau lolos hasil penyaringan, kami sebagai orang tua juga harus memilik dana yang cukup banyak. Harvard dan MIT adalah dua perguruan tinggi swasta yang sangat mahal. Terus terang, sebagai orang tua, kami tidak akan sanggup membiayai anak-anak kami di perguruan tinggi tersebut, kecuali jika anak kami mendapatkan program beasiswa.


HARVARD UNIVERSITY

Kunjungan pertama kami adalah Harvard University. Saya hampir menangis ketika saya memasuki halaman kampus di Harvard. Saat kunjungan kami, mahasiswa masih dalam liburan musim panas maka banyak pengunjung yang datang terutama adalah para turis. Saya hampir menangis karena waktu saya SMA dulu, saya sering berangan-angan dan bermimpi kuliah di Harvard. Impian yang rasanya sangat jauh dan tidak mungkin saya genggam pada saat itu. Saya sempat gagal ujian penyaringan beasiswa dari Fulbright.

Beruntung sekali kakak ipar saya memiliki teman yang bekerja di Fakultas Hukum atau School of Law di Harvard. Kami pun diberi akses khusus untuk melihat-lihat fakultas hukum di Harvard yang sangat terkenal tersebut. Saya membayangkan beberapa tokoh terkenal dunia yang pernah duduk dan mengenyam pendidikan di Harvard seperti Presiden Barack Obama (dan beberapa mantan presiden Amerika lainnya), Bill Gates, Matt Damon, Natalie Portman, dan Mark Zuckenberg.

Di depan perpustakaan utama Harvard



Sudut asrama mahasiswa

Add caption




Salah satu ruang di perpustkaan - Harvard School of Law

Perpustakaan di Harvard School of Law (Fakultas Hukum)



Yang menarik perhatian saya, referensi buku-buku Islam di Harvard School of Law


Walaupun ngga kesampain kuliah di Harvard, lumayanlah saya bisa lihat-lihat perpustakaannya :)

Ruang baca di fakultas hukum Harvard

Di depan kampus untuk program S2 di Harvard



Anak-anak di depan asrama mahasiswa Harvard. Saya pun berandai-andai saat saya sedang mem-foto mereka. Mungkinkah 8-10 tahun yang akan datang saya akan kembali kesini namun tujuan kali itu adalah untuk mengantar dan melepaskan anak-anak saya berkuliah di Harvard :)

Salah satu gebang masuk di Harvard

Tour anak-anak SMA dari Cina. Banyak masiswa di Harvard adalah para mahiswa dari Cina bahkan mereka pun memiliki tour yang membawa para anak SMA untuk melihat dan mempelajari potensi mereka untuk berkuliah di Harvard. Menurut cerita yang saya dengar, banyak anak-anak tersebut yang awalnya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Atau banyak juga dari mahasiswa tersebut adalah generasi pertama di keluarga mereka yang mengenyam bangku kuliah.

Patung John Harvard

Beristirahat sejenak di halam kampus Harvard




Massachusetts Institute of Technology (MIT)

Setelah puas berkeliling Harvard dan setelah puas merealisasikan mimpi masa muda yang tidak kesampaian, kamipun melanjutkan perjalanan ke MIT. Jarak dari Harvard ke MIT kami tempuh selama 10 menit dengan naik subway (kereta bawah tanah).

MIT adalah universitas yang lebih mengacu kepada bidang ilmu pengetahuan (science), teknologi dan engineering. Anak lelaki saya sangat menaruh minat yang besar soal science. Dia lah yang paling excited saat kami jelaskan soal MIT. Seperti halnya Harvar, MIT adalah termasuk salah satu universitas swasta yang sangat mahal, walau tidak termasuk dalam kategori Ivy League seperti Harvard.

Kami memiliki dua keberuntungan saat mengunjungi dua universitas tersebut, karena di Harvard dan MIT, kakak ipar saya memiliki koneksi. Jadi tour kami lebih ke pada VIP dimana kami bisa memasuki ruang-ruang tertentu yang tidak bisa dimasuki oleh masyarakat umum.


MIT

Add caption

Tampak depan kampus MIT



Cool sculpture of numbers




Dinding memorial untuk mengenang alumni MIT yang gugur saat perang

Nama-nama para pen-support MIT yang berperan dalam mendukung pembangunan kampus secara mental dan fisikal.




Anak berumur 8 tahun ini berkata, "I am going to study here, school of science"

Ruang lab fakultas teknologi di MIT


Salah satu sudut student center di MIT

Koridor di dalam kampus MIT

Koridor dalam ruang bawah kampus


Dua hari di Boston sebenarnya tidaklah cukup, tetapi saya bersyukur kami sekeluarga dapat mengunjungi tempat-tempat yang menjadi tujuan utama turis di kota Boston dan Cambridge, Massachusetts.
"We will be back, Boston".


Cerita selanjutnya......NEW YORK!!!!