Wednesday, April 13, 2016

Verbal Bully dan Bagaimana Menghadapinya


My son and his friends in Kindergarten. No worries, they are not fighting, just playing :)



Bully di sekolah:
Apa yang ada dibenak kita ketika kita mendengar kalimat “bully di sekolah?” Tebakan saya seoarang anak laki-laki, badannya besar, mungkin tidak terlalu pintar, dan selalu membuat tingkah di sekolah. Jika anak ini tidak berkelahi, dia selalu mencari alasan untuk berkelahi atau mengancam anak lain untuk memulai perkelahian.


Tapi ada tipe bully yang lain yang sering kita lupakan atau tidak terpikir oleh kita, VERBAL BULLY. Hanya dengan kata-kata mereka menyakiti hati, membuat kita malu, mendominasi, dan menghancurkan perasaan kita. Fisikal bully, tidak ragu lagi harus dihadapi, harus kita hentikan. Kita tidak dapat membiarkan sekolah menjadi tempat kekerasan. Ketika kekerasan tidak lagi bisa kita toleransi, ketika ada anak yang menjadi korban fisikal bully, maka guru-guru dan orang tua serta anak-anak kita pun menyadari ada masalah yang harus kita hadapi. Tindakan pencegahan datang secara otomatis. Lain halnya dengan verbal bully, tipe pem-bully ini sering terlupakan. Verbal bully secara samar menyerang “mangsa’nya dan terlewat oleh radar kita. Hanya korban yang bisa mendengar dan merasakan. Sementara murid-murid lain, si pembully, guru atau orang tua semua berpendapat, “ah, itu cuma kata-kata saja. It’s just words”.


Tapi kita tahu, mungkin kita pernah mengalami...kata-kata bisa menyakitkan juga. Kata-kata menjatuhkan kita. Kata-kata memecahkan rasa percaya diri kita. Satu komentar dari orang yang tidak kita kenal bisa terngiang-ngiang di telinga kita sepanjang hari.  Sebagai orang dewasa, kita bisa mengatakan pada diri kita, “Ah, itu hanya pendapat orang yang tidak saya kenal, tidak masalah. Cuek aja. Dia tidak kenal saya. Peduli amat”.  Banyak dari kita yang menghabiskan waktu di Facebook membaca komen-komen netizen yang sebagian besar berisi kata-kata yang menyakitkan, yang menghina. Bayangkan bagaimana perasaan anak-anak usia sekolah yang tidak memiliki banyak pengalaman dalam hidup ketika mendengar kata-kata seperti ini.


My son and his friends in Kindergarten. No worries, they are not fighting, just playing :)


Ada kemungkinan verbal bully tidak menyadari kalau mereka adalah bully. Di satu sisi mereka dinasehati oleh orang tua mereka bahwa kejujuran sangatlah penting. Maka ketika mereka mengkritik orang lain, mereka berpikir itu adalah sebuah kejujuran. Anak-anak diajari untuk selalu membantu orang lain, maka ketika mereka mengungkap kelemahan anak-anak lain mereka berpikir ‘mereka hanya ingin membantu’.  Masalah inti kenapa verbal bully ini melakukan hal yang sama terus-menurus sama halnya dengan kenapa fisikal bully melakukan aksinya, mereka menemukan kepuasan dalam mendominasi orang lain. Mereka sadar kata-kata mereka menyakiti, mereka merasa “hebat” dan lebih kuat dibanding teman-teman mereka. Jika mereka ditegur karena kata-kata mereka, maka alasan mereka adalah “Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan dia. Saya jujur apa adanya. Saya cuma berusaha membantu. Ah, itu kan cuma kalimat saja”.

Kita hidup dijaman kebebasan berpendapat,  hal ini membuat kita sebagai orang dewasa merasa ragu untuk memberikan hukuman atau sangsi kepada verbal bully, karena yang mereka sebarkan “hanya kata-kata” bukan pukulan, bukan tonjokkan. Tetapi dengan kebebasan berendapat harus ada tanggung jawab.


Bayangkan apabila kita mendengar komentar inncoent seorang anak soal tas punggung atau backpack. “Ih kamu kok pakai Doraemon backpack sih? Kamu aneh ya. Doraemon backpack kan ngga keren, norak, kampungan. Ih kamu kampungan”. Anak yang memiliki Doraemon backpack tidak menangis, tetapi dia hanya berdiri dan tidak bisa berkata-kata. Perasaan mereka tersakiti, ego mereka terpukul. Apakah anak yang menghina Doraemon backpack pantas di hukum? Jika dihukum, apa yang akan kita katakan disaat orang tua anak yang menghina Doraemon backpack berkata kepada kita, “Kamu menghukum anak saya hanya karena dia tidak suka Doraemon backpack? Kamu bercanda ya? Kenapa tidak kamu bilang ke anak yang punya Doraemon backpack untuk lebih tegar”?
Pertanyaannya; Lalu, apakah yang harus kita lakukan?

Ada tempat dan waktu yang berbeda untuk mengeluarkan pendapat secara santun. Sebagai orang tua kita banyak berbicara soal penggunaan bahasa yang baik dan benar, dan bagaimana meningkatkan perbendaharaan kata mereka. Mengeluarkan pendapat harus dilakukan dengan lebih santun, bahkan orang dewasa banyak yang harus mempelajari bagaimana mengeluarkan pendapat secara santun.
Ajarkan anak-anak kita untuk berkata positif atau berpendapat secara positif. “Jika kita tidak bisa berkata-kata secara baik, lebih baik kita diam”. Katakan kepada mereka, “Kamu selalu bisa berkata-kata dengan baik, atau memberi pujian akan sesuatu. Bahkan disaat kamu tidak menyukai sesuatu secara umum, carilah hal-hal positif. Misalnya kamu tidak suka Doraemon backpack, apakah kamu suka warna nya? Atau apakah kamu suka kantong-kantong di backpack tersebut? Bagaimana dengan resleting backpack tersebut? Pasti ada sesuatu di Doraemon backpack yang kamu sukai. Atau kalau tidak ada sama sekali, kamu bisa berkata “Backpack adalah alat yang paling efisien untuk membawa buku dan peralatan lainnya ke sekolah”.
Tantang anak-anak kita untuk hanya menggunakan kata-kata positif dari saat mereka bangun sampai mereka tidur. Tidak boleh ada keluhan. Tantang anak-anak kita untuk memberikan pujian kepada teman-teman mereka. Misalnya dengan hal-hal kecil seperti, “Sepatu kamu bagus”, “Wah kamu pintar menggambar ya”, atau “Project kerajinan tangan kamu bagus”.


Perilaku anak-anak banyak dipengaruhi orang tua mereka, anak anak belajar dari orang dewasa. Misalnya pada saat orang tua mengkritik anak, maka anak-anak meresa juga perlu membantu teman-teman mereka dengan memberi kritikan. Bisa kita bayangkan betapa baiknya jika anak-anak bisa saling membantu satu sama lainnya, tetapi kita juga bisa melihat bagaimana satu orang anak yang berusaha “membantu” anak yang lainnya sebagai tindakan yang mendominasi atau mengecilkan anak yang dibantu.
Anak-anak juga meniru ledekan atau candaan. Mereka melihat kita orang dewasa meledek  teman-teman kita, maka mereka berpikir begitulah cara berteman, dengan ledekan dan candaan. Saya sangat malu ketika guru TK anak saya mengirim email ke saya yang isinya menjelaskan bahwa anak sama meledek teman sekelasnya yang memiliki tangan yang kecil sebelah dengan memanggil anak tersebut “Alien”. Anak saya tidak bermaksud menghina, dia hanya bercanda dengan temannya. Saat itu, ketika di rumah saya dan suami melakukan percakapan yang produktif dengan anak kami dan kami jelaskan kepada anak kami soal menjaga “perasaan” orang lain. Kami ingatkan dia saat dimana teman-temannya meledek gigi taringnya dan dia dipanggil “drakula”.

Kita harus mengajarkan anak-anak kita cara membantu orang lain dengan baik, kapan saat yang tepat untuk membantu. Jelaskan kepada mereka bahwa kadang-kadang orang lain tidak ingin di bantu, dan mungkin tidak membutuhkan bantuan. Mungkin mereka hanya perlu waktu ekstra untuk menyelasaikan tugas mereka. Jelaskan pada mereka jika seseorang tidak dapat melakukan sesuatu sebaik mereka, secepat mereka, atau seperti apa yang mereka lakukan, bukan berarti orang tersebut butuh bantuan. Mungkin mereka hanya butuh ucapan “selamat” atau congratulation karena mereka melakukan sesuatu dengan cara mereka.

Anak sulung kami kadang mengkritik adiknya. Saya membuat dia berkata, “Saya bukan orang tua”. Tujuan saya adalah memberi penjelasan dan limit bahwa peranannya sebagai seorang kakak berbeda dengan peranan orang tua.


Pernah bertanya ke anak, “Bagaimana harimu di sekolah”? Dan jawaban mereka cuma, “Baik”. Sebagai orang tua, jika kita ingin memiliki percakapan dengan anak inilah saatnya. Jangan cuma bertanya “Bagaimana sekolah hari ini”. Sebagai permulaan, bisa dimulai dengan percakapan seperti ini misalnya, “Waktu kelas 3 dulu ada seorang anak perempuan yang selalu jahat sama bunda, dia selalu menghina apa yang bunda pakai ke sekolah. Perkataan anak itu menyakiti hati bunda, tetapi bunda tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ada hal-hal seperti terjadi di sekolah kamu”?. Dengan percakapan yang di mulai seperti ini, anak-anak kita akan memiliki sesuatu atau pondasi untuk membangun atau membagi cerita mereka. “Bagaimana harimu di sekolah” tidak menyediakan media untuk memulai percakapan yang sesungguhnya.


Perlu diingat pula, mungkin anak kita lah yang menjadi verbal bully tetapi mereka tidak menyadarinya. Kita pikir hal tersebut tidak mungkin? Coba pikir soal para bully di sekolah yang orang tuanya beranggapan bahwa anak-anak mereka adalah ‘angels’. Sebagai orang tua kita bisa membangun strategy. Bahkan dengan naskah. Ketika anak-anak bercerita kepada kita soal anak lain yang menggunakan kata-kata kejam atau hinaan kepada mereka, bantu anak-anak kita untuk menghadapi hinaan tersebut jika terjadi lagi. Mungkin ada baiknya jika mereka acuhkan atau cuek saja. Atau mungkin ada baiknya kita ajarkan anak-anak kita untuk membalas hinaan tersebut dengan berkata (kalau ada yang menhina atau mengejek mereka), “Ohhh begitu? Kamu pikir begitu? Mau bilang apa, kita punya pendapat yang berbeda”. Atau jika kita menggunakan atittude seperti ungkapan atau peribahasa favorite saya, “Anjing menggongong kafilah berlalu”


Kita harus dapat mencari phrase yang tepat buat anak-anak kita dalam meng-counter verball bully. Lebih baik lagi bila mereka bisa menemukan phrase yang tepat untuk mereka. Contohnya, ajarkan mereka untuk mengkritik hinaan bukan mengkritik si verbal bully misalnya dengan “Ihhh ketinggalan jaman sekali ya? Kok masih ada orang yang ngomong begitu?’’.
Ada manfaatnya jika hal seperti ini di praktekan di rumah, seperti role play. Berpura pura, kita sebagai orang tua adalah si verball bully dan anak kita adalah korbannya. Ajarkan mereka bagaimana cara menangani komen-komen yang berisi hinaan dan cemoohan dengan cara positif. Ada baiknya bila kita sebagai orang tua menyelipkan humor saat kita berpura-pura atau berakting soal bagaimana menangani verbal bully, sebab kadang-kadang percakapan yang terlalu serius bisa terhenti ditengah jalan.
Perlu untuk selalu diingat, percakapan dengan anak-anak kita berjalan dua arah. Kadang-kadang kita berpikir kita lebih tahu daripada anak-anak kita dan lupa untuk mendengarkan. Padahal dengan menjadi pendengar kita bisa tahu apa yang anak-anak kita pahami, kita tahu apa yang mereka takutkan, apa yang mereka khawatirkan, yang membuat mereka bosan, atau yang membuat mereka senang. Pada akhirnya, jika kita mendengar, jika kita melihat dan mengawasi, kita dapat melihat ‘spark’ (mata mereka berbinar, mereka tersenyum, mereka memanggut-manggut, wajah mereka menjadi ceria) yang menandakan persepsi dan pengertian mereka terhadap isu yang membuat mereka sedih telah berubah selamanya. Kita dapat melihat anak kita menjadi anak yang penuh percaya diri.

4 comments:

  1. kadang2 anak dipengaruhi lingkungan..., orang tua udah ngajarin yang baik dirumah..tapi teman sepermainan yang jahil..jadi ngikut-ngikut...

    ReplyDelete
  2. Hello Nova,
    Iya benar sekali, lingkungan juga punya pengaruh. Tapi pengaruh yang paling kuat adalah di rumah. Kalau pondasi di rumah sufah kuat, insya Allah mereka tumbuh menjadi anak yang punya kepribadian baik.

    ReplyDelete
  3. yang sulit itu bila yang melakukan verbal bully adalah org dewasa di sekitarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kale orang dewasa yang melakukan, maka harus di hadapi sama orang dewasa juga :)

      Delete