Wednesday, July 31, 2019

Cintailah Hidupmu, Jangan Mencintai Hidup Orang Lain

Banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan kehidupan mereka karena mereka selalu membandingkan kehidupan pribadi mereka dengan kehidupan orang lain. Bagaimana mungkin? Sangat mungkin, sosial media adalah salah satu penyebabnya.

Instagram, Facebook, atau Twitter memiliki peranan besar dalam menciptakan perbandingan tersebut. Sosial media membuat perbandingan itu menjadi konstan, berlangsung terus menerus dan kita membawanya kemana-mana; di kantong celana kita, di dalam tas kita, bahkan di tempat yang paling pribadi seperti kamar tidur dan kamar mandi.

Hal ini pun terjadi pada saya.  Sebagai orang yang menyukai fashion, saya mem-follow beberapa fashion dan life style blogger yang kehidupannya selalu tampak sempurna. Anak-anak yang cantik dan tampan, suami yang ganteng, rumah  yang selalu terlihat tampak bersih dan rapih dengan furniture dan sofa berwarna putih yang membuat mulut saya menganga lebar. "Mereka punya anak kecil, bahkan lebih muda dari umur anak-anak saya, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki ruang tamu dengan sofa berwarna putih, karpet putih dan segalanya putih? Badan mereka yang kurus dengan kaki yang langsing dan panjang, pakaian dan assesori yang mereka pakai yang selalu tampak sepadan. Belum lagi tempat-tempat yang mereka kunjungi saat liburan; Paris, London, Tokyo, Vienna, Berlin, Madrid, The Bahamas, dan tempat-tempat menarik lainnya. Foto-foto di Instagram mereka selalu tampak sempurna. What a life!

Jangankan blogger yang tidak saya kenal, sayapun pernah agak sedikit iri melihat beberapa teman yang memposting renovasi dapurnya atau yang membeli mobil baru. Tidak sadar, saya ikut melakukan perbandingan, "Dapur di rumahku tidak seperti dapurnya," atau "Mobilku tidak sebagus mobilnya."

Comparison game atau perbandingan yang kita lihat di sosial media tidak hanya mempengaruhi emosi kita tetapi juga mempengaruhi pengeluaran kita.  Kemanapun kita pergi kita akan melihat mobil-mobil baru, rumah-rumah baru, gaya rambut baru, dan sebagainya. Sangat sulit untuk tidak menginginkan hal-hal tersebut. Di sosial media semua hal yang berbau "baru" tersebut juga tampak sempurna. Orang-orang yang memilikinya tampak sangat bahagia. Kitapun ingin ikut terlihat atau merasakan kebahagian tersebut dan hal itu merubah kelakuan kita.

Sebenarnya, apa yang kita bandingkan cuma hal-hal kecil dari kehidupan mereka yang terlihat dipermukaan saja. Banyak hal lain yang terjadi, tetapi kita tidak dapat melihatnya karena mereka tidak memposting sesuatu yang kurang menyenangkan tersebut di sosial media. Kita membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita. Untuk memiliki sesuatu yang bersifat material, kitapun rela membelanjakan uang kita walaupun kita tidak memerlukannya. Kitapun merasa puas karena bisa 'keep up" dan merasa tidak ketinggalan trend.  Kita merasa perlu untuk menenteng tas buatan designer ternama supaya orang lain bisa melihat kita dengan cara yang berbeda. Yang lebih buruk lagi, kita kecewa terhadap suami kita yang sepertinya tidak dapat membahagiakan kita sebagai istrinya dengan perlakuan romantis atau menghadiahkan kita dengan tas-tas branded, mobil baru atau rumah yang mewah. Semua itu tidak nyata, it's not the real picture. Saat kita menganggap kehidupan kita selalu berkekurangan karena kehidupan orang lain yang kita lihat lewat sosial media, hal ini sangat tidak baik untuk kesehatan mental kita.


Moms, ibu-ibu adalah mahluk yang paling kompetitive di sosial media. Seberapa sering kita memposting soal prestasi anak-anak kita? Saya adalah salah satu korbannya. Sangat bisa dimengerti saat seorang ibu membanggakan prestasi anaknya, asal masih dalam level yang wajar. Lalu level yang wajar itu yang seperti apa? Level yang wajar adalah tergantung dari bagaimana kita menanggapi parade anak-anak berprestasi di sosial media. Semua ibu tentunya percaya anaknya adalah yang paling cantik, yang paling ganteng, paling berbakat dan yang paling segalanya. Hampir semua ibu atau orang tua pada umumnya, seperti berjalan di udara saat anaknya mendapat nilai baik atau mendapat pernghargaan dari sekolah, atau saat mereka diterima di universitas atau sekolah ternama. Kegembiaraan tersebut mereka bagikan di Facebook, Instagram atau Twitter. The world needs to know this every detail of their kids achievement.

Yang tidak wajar adalah saat kita merasa harus bersaing dengan ibu-ibu tersebut. Yang lebih parah lagi, kita membuat anak-anak kita harus bersaing dengan anak-anak orang lain. Maka kita pun rela mengeluarkan uang dan waktu untuk memasukkan anak-anak ke berbagai macam kursus; piano, Kumon, ballet, sepak bola, renang, baseball, baseketball, dan kursus-kursus lainnya. Kita lupa bahwa anak-anak kita sebenarnya tidak terlalu menikmati kursus-kursus extra tersebut. Kita lupa kalau mereka masih anak-anak. Mereka butuh waktu untuk menikmati masa kanak-kanak mereka tanpa dibebani jadwal kursus yang padat disamping jadwal sekolah dan PR yang menumpuk.

Dari beberapa hal-hal yang saya sebut di atas, jujur saja, sayapun pernah mengalaminya. Saya pernah merasa kehidupan saya berada jauh dibelakang beberapa teman atau blogger yang saya follow di sosial media. Saya pernah merasa kecewa karena rumah saya tidak sebagus beberapa rumah teman-teman saya di sosial media. Mobil saya tidak semewah mobil mereka, anak-anak saya tidak sepandai anak-anak mereka, suami saya tidak sebaik suami mereka, tas buatan designer ternama saya tidak sebanyak tas mereka. Daftarnyapun panjang kalau mau diteruskan. Bikin pusing.

Untungnya, belakangan ini saya mulai melihat kehidupan saya dari sisi yang berbeda.  Saya belajar mensyukuri apa yang saya punya. Saya melihat teman-teman bule saya disini yang rata-rata adalah para ibu-ibu teman anak-anak saya di sekolah. Jarang sekali mereka memposting kehidupan mereka di Facebook. Contohnya, orang tua sahabat anak saya yang perempuan. Musim panas tahun ini mereka liburan ke London, Austria, Switzerland, dan Paris. Tidak satupun ibu atau ayah anak tersebut mem-posting liburan mereka di sosial media. Kemarin mereka main ke rumah saya, membawa oleh-oleh untuk anak saya. Mereka menunjukkan foto-foto liburannya ke saya. Ketika saya tanya kenapa dia tidak mengupdate liburannya di Facebook, teman saya tersebut cuma tersenyum dan bilang, "it's not necessary." Saya jadi malu. Kalau saya mungkin sudah posting setiap jam di Facebook apalagi saat liburan ke Eropa.

Soal pamer seperti ini sepertinya lebih sering dilakukan oleh orang-orang Indonesia atau Asia pada umumnya. Saya tidak bermaksud men-generalisasi tetapi dari pengalaman pribadi, teman-teman bule saya memang sangat jarang mem-sharing hal-hal berbau materi di sosial media. Mungkin cara berpikir mereka yang berbeda dengan cara berpikir kita.

Kehidupan orang lain yang selalu tampak menyilaukan mata memang sangat berpengaruh terhadap emosi kita, untuk itu saya mulai mempraktekan gratitude, belajar bersyukur, SETIAP HARI.  Mulai saat saya bangun tidur saya bersyukur bisa melihat pagi dan di sebelah saya ada seorang suami yang selalu mengucapkan selamat pagi saat saya bangun. Tidak cuma itu, dia selalu mencium pipi saya dan kemudian berjalan ke dapur untuk membuat kopi.

Gratitude. Banyak hal yang dapat saya syukuri dalam kehidupan saya. Saya tidak akan bisa bersyukur kalau saya tidak punya kerendahan hati. Saya percaya, rasa syukur akan menaikkan tingkat kepuasan kehidup saya dan akan memberikan landasan kehidupan yang solid. Saya percaya, orang yang paling bahagia adalah mereka yang hidup dalam kesederhanaan.

Cium, peluk erat suami dan anak-anak kita,  katakan dan tunjukkan kepada mereka setiap hari, "I love you and I appreciate everything that you do." Syukuri semua yang kita miliki, termasuk mobil tua yang setia menemani dan mengantar kita kemana-man dan handbag non-branded yang memiliki fungsi yang sama dengan Hermes.


-Love your live, not theirs-


No comments:

Post a Comment